Wajib Belajar Bahasa Arab

Image
 Alasan Belajar Bahasa Arab
Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an. Ia terdiri dari dua puluh empat huruf dasar. Berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab ditulis dari kanan ke kiri. Awalnya bahasa Arab dipergunakan hanya di semenanjung Arabia. Namun, seiring dengan perkembangan Islam, bahasa Arab kini menjadi bahasa ibu oleh lebih dari 200 jiwa manusia di sekitar 22 negara di dunia.
 
MENGAPA BELAJAR BAHASA ARAB PENTING?
Paling tidak, karena tiga alasan:
 
Alasan Pertamabahasa Arab adalah bahasa Islam. Al Qur’an, hadits dan literatur-literatur induk Islam ditulis dalam bahasa Arab. Ibadah-ibadah tertentu, seperti shalat dan dzikir, harus dengan bahasa Arab. Ulama-ulama Islam, klasik dan kontemporer, umumnya adalah penutur Arab asli. Hampir tidak mungkin ber-”Islam” secara penuh tanpa bahasa Arab.
Dalam kaitannya dengan Al Qur’an, Allah  berfirman:

﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا ﴾

“Sesunggunya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab.” (QS. Yusuf: 2).
Ayat ini mengandung penegasan bahwa Al Qur’an berbahasa Arab. Sehingga Imam As-Syafi’i—rahimahullah—berkata,Kandungan Al Qur’an tidak akan mungkin diketahui oleh orang yang tidak memahami kekayaan dan keluasan makna yang terdapat dalam bahasa Arab.”  Sebab, bahasa Al Qur’an hanya bisa dipahami dengan mempergunakan kaedah kebahasaan yang dipergunakan Al Qur’an. Dan bahasa Al Qur’an, dalam hal ini adalah bahasa Arab.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menghukumi belajar bahasa Arab sebagai suatu kewajiban. Kaedah ushul fiqh mengatakan; suatu amalan yang tidak akan sempurna kecuali dengan amalan tertentu, maka amalan tertentu itu hukumnya wajib. Misalnya, shalat tidak sah tanpa wudhu, maka wudhu menjadi wajib. Jika kewajiban memahami Al Qur’an tidak mungkin sempurna tanpa pemahaman bahasa Arab yang baik, maka memahami bahasa Arab pun menjadi wajib.
Prinsip yang sama berlaku pula ketika kita berbicara tentang hadits-hadits Nabi dan atsar salaf. Pesan-pesan yang terkandung dalam sumber-sumber tersebut tidak akan dapat dipahami dengan baik tanpa kemampuan berbahasa Arab yang memadai.
Melihat korelasi yang erat antara Islam dan bahasa Arab ini, mungkin itulah yang menjadi alasan Umar ibn Khattab , khalifah kedua, berpesan: “Jauhilah penggunaan bahasa selain bahasa Arab dan auhilah orang-orang Musyrik di gereja-gereja mereka pada hari raya.”
Pada kesempatan lain, beliau berkata, “Bersemangatlah dalam mempelajari bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab adalah bagian dari dienmu.”
Atas kesadaran tersebut, ulama-ulama Islam senantiasa menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama. Hal itu terlihat jelas lewat karya-karya tulis yang mereka wariskan. Semua karya tulis tersebut dituangkan dalam bahasa Arab.
Alasan Kedua, keunikan bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Kosa kata bahasa Arab sangat kaya. Dengan sistem sharf (penguraian kata), misalnya, bahasa Arab mampu melahirkan, dari setiap kata, makna-makna yang tidak pernah terlintas di benak sekalipun. Fakta sejarah membuktikan hal itu. Setelah dipergunakan lebih dari empat belas abad lamanya , bahasa Arab tetap eksis, orisinil, dan senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Dalam bahasa Arab, terdapat bahasa standar yang tetap stabil dan tidak pernah berubah.  Dengan bahasa standar itu, membaca kitab “Ar-Risalah” yang ditulis sebelas abad yang lampau tidak berbeda dengan membaca tulisan yang baru dicetak kemarin. Dengan menguasai bahasa Arab standar, siaran radio berbahasa Arab, dari negara manapun, dapat dimengerti tanpa hambatan yang berarti. Sebab pola kata, kalimat, dan gaya bahasa yang dipergunakan, dalam dua kasus di atas, sama.
Bahasa baku standar ini adalah bahasa yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits. Bahasa tersebut, saat ini, adalah bahasa resmi di pemerintahan, kantor, media massa, pendidikan, iptek, dan lain-lain. Faktor Al Qur’an dan hadits, tampaknya, telah membantu proses standarisasi bahasa Arab sehingga tidak terpengaruh dengan bahasa lokal pemeluk Islam yang berbeda-beda latar belakang dan akar budayanya.
Di samping kaya dan stabil, bahasa Arab juga memiliki tingkat akurasi makna yang tinggi. Perubahan baris dalam bahasa Arab, misalnya, yang berarti perubahan pada bunyi vokal belaka, dapat mengubah arti kata. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab, kalimat katabta berarti: anda telah menulis. Sedangkan kalimat katabtu, artinya: saya telah menulis. Perbedaan antara dua kalimat tersebut terletak hanya pada bunyi akhir, akibat perbedaan baris. Bunyi “u” pada kalimat pertama, dan bunyi “a” pada kalimat kedua. Perbedaan tersebut telah mengubah kata ganti pada dua kalimat itu.
Aspek-aspek yang dikemukakan di atas, berupa kekayaan kosa kata, kestabilan dan akurasi makna; sulit ditemukan pada bahasa selain bahasa Arab. Kiranya, bukan kebetulan bila Allah menurunkan Al Qur’an dan mengutus NabiNyadengan bahasa Arab.
Alasan Ketigaperkembangan pengguna-an bahasa Arab yang semakin pesat. Animo masyarakat Muslim untuk mempelajari bahasa Arab semakin hari menunjukkan grafik yang terus meningkat. Lembaga-lembaga pengajaran bahasa Arab tumbuh di mana-mana. Istilah-istilah yang diambil dari bahasa Arab juga makin sering digunakan, hatta dalam percakapan sehari-hari.
Istilah ana (saya), antum (anda/kalian), tsabat (konsisten), tarqiyah (up grade), mudharabahistighfar, dan lain-lain; adalah istilah-istilah serapan dari bahasa Arab yang semakin akrab di telinga.
Masyarakat Muslim semakin sadar terhadap urgensi bahasa Arab. Sejumlah bidang pekerjaan juga mempersyaratkan penguasaan bahasa Arab. Baik itu sektor agama, hukum, medis, penerbitan, pertambangan, dan lain-lain.
CINTA BAHASA ARAB
      Banyak di antara umat Islam yang secara serius dan dengan biaya yang tidak sedikit untuk belajar bahasa Inggris, Mandarin, Perancis, atau bahasa asing lainnya, bahkan mereka merasa kurang percaya diri jika tidak bisa berbahasa tersebut. Namun, mereka justru merasa malu untuk mempelajari bahasa Arab hanya karena takut dikatakan ketinggalan jaman atau tidak gaul.
Padahal antara mempelajari Islam dengan bahasa Arab tidak bisa dipisahkan, layaknya sekeping uang logam dengan dua sisinya. Bahasa Arab adalah sebagian dari dien. Jika kita rela meluangkan waktu dan biaya untuk mempelajari bahasa asing, mengapa kita tidak melakukan hal yang lebih kepada bahasa Arab?
SEBUAH SERUAN
            Jika orang Belanda seperti Snouck Hurgrone rela belajar bahasa Arab bertahun-tahun untuk mengetahui seluk-beluk Islam dan menghancurkannya, mengapa kaum Muslimin sendiri justru enggan mempelajarinya? Bahkan agen CIA sekarang pun belajar bahasa Arab demi memuluskan misinya di negara-negara Islam. Lantas mengapa generasi muda Islam malu belajar bahasa Arab? Tidakkah kita sadar bahwa bahasa Arab adalah bahasa persatuan kaum Muslimin di seluruh dunia? Mari, belajar bahasa Arab!
@Ilham Jaya, Lc.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: