Belajar Adab sebelum Belajar Ilmu lainnya

http://www.4shared.com/embed/229419456/654a17b8

1. Definisi Adab.

Adab secara bahasa bermakna tabiat, perangai, kebiasaan. Sedang menurut istilah adalah segala sesuatu yang terpuji baik ucapan maupun perbuatan yang dilakukan oleh seseorang, yang sering dikenal dengan al-akhlak al-karimah. Jadi adab dan akhlak merupakan dua kata yang mempunyai hubungan sangat erat.

2. Pentingnya Mempelajari Adab.

Allah telah menganugrahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat yang besar dengan diutusnya Rasul yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, da’i yang menyeru kepada Allah dengan idzin-Nya, dan sebagai lampu yang menerangi yang telah diturunkan Al-Qur`an kepadanya, sebagai kitab yang memberi petunjuk, mengajarkan ilmu dan yang memperbaiki keadaan manusia. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah:2)

Maka dakwahnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup tiga hal utama, sebagaimana diterangkan dalam ayat yang mulia ini. Tiga hal itu adalah At-Tabliigh (menyampaikan ilmu), At-Tazkiyyah (pensucian jiwa) dan At-Ta’liim (mengajarkan ilmu). Adapun at-tazkiyyah maka yang dimaksud adalah mendidik jiwa agar menerapkan Islam, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta berakhlak dengan akhlak-akhlak yang utama dan adab-adab yang tinggi.[1]

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan tugas ini yaitu mendidik dan mensucikan jiwa para shahabatnya dan mengajarkan kepada mereka adab-adab Islam sehingga berubahlah mereka yang tadinya keras, kaku dan kasar menjadi orang-orang yang lembut, luas akhlaknya dan baik dalam pergaulannya serta secara umum berakhlak dengan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan ummat Islam, yang mana akhlak beliau adalah Al-Qur`an.[2]

Para shahabatpun senantiasa melaksanakan tugas yang agung ini dalam menyebarkan Islam, dimana mereka bersungguh-sungguh dalam menyampaikan adab sebelum ilmu kepada murid-murid mereka dari kalangan Tabi’in, dan mengarahkan mereka kepada adab dan akhlak pada dirinya, keluarganya, gurunya, teman-temannya serta seluruh manusia yang ada di sekitarnya, yang semuanya ini selayaknya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agar berpegang teguh dengannya. Kemudian hal ini pun berpindah kepada tabi’in, di mana mereka menjadi para pengajar yang menjadi panutan dalam masalah adab dan ilmu bagi murid-muridnya. Dan demikianlah dari satu generasi ke generasi berikutnya, mereka senantiasa mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.[3]

Adapun pentinya belajar adab sebelum ilmu salah satunya adalah merupakan suatu sebab mendapatkan keberkahan dalam majelis tersebut. Oleh sebab adab dan akhlak dalam Islam mempunyai kedudukan yang lebih serta dipandang serius dalam mempelajarinya, sehingga tidak mengherankan dari sejak zaman Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in adab selalu dipelajari dengan serius.

Beberapa ucapan para Imam yang dapat kita teladani tentang pentingnya kita mempelajari adab, antara lain:

!          Muhammad bin Sirrin beliau berkata: “Mereka dulu (para sahabat)  mempelajari adab-adab sebagaimana mempelajari ilmu.[4]

!          Al-Imam Abu Abdillah Sufyan Ats-tsauri rahimahullah, beliau menceritakan kisah bagaimana di zaman Tabi’in dalam mempelajari adab menjadi hal yang utama. Sufyan Ats-tsauri mengatakan: “Mereka-mereka dulu (para Sahabat dan Tabi’in) tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk pergi menuntut ilmu, hingga anak-anaknya telah diajari adab-adab terlebih dahulu dan memperbanyak ibadah 20 th lamanya”[5]

!          Abdullah bin Mubarak rahimahullah beliau menceritakan tentang metode beliau menuntut ilmu -Abdullah bin Mubarak adalah seorang ulama yang mengumpulkan seluruh cabang ilmu- beliau berkata: “Saya mempelajari adab 30th dan saya menuntut ilmu 20th, dan mereka dulu (para Sahabat dan Tabi’in) mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu”.[6]

!          Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.” [7]

!          Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dari Al-Imam Malik bin Anas, beliau berkata: Berkata Ibnu Sirin: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) mempelajari al-huda (petunjuk tentang permasalahan adab dan yang sejenisnya) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” [8]

!          Dari Al-Imam Malik juga, dari Ibnu Syihab, beliau berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah adabnya Allah, yang telah Allah ajarkan kepada Nabi-Nya dan demikian juga telah diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya; amanatnya Allah kepada Rasul-Nya agar beliau melaksanakannya dengan semestinya. Maka barangsiapa yang mendengar ilmu maka jadikanlah ilmu tersebut di depannya, yang akan menjadi hujjah antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.” [9]

!          Dari Ibrahim bin Hubaib, beliau berkata: Berkata ayahku kepadaku: “Wahai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka serta ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai untukmu daripada memperbanyak hadits.” [10]

!          Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.” [11]

Hal ini dikarenakan kalau seseorang sibuk memperbanyak hadits dan menghafalnya akan tetapi tidak beradab dengan adab-adab yang telah dipraktekkan oleh para ulama niscaya ilmu tadi tidak akan bermanfaat. Akan tetapi orang yang belajar adab niscaya dia akan terus mencari tambahan ilmu dengan diamalkan dan diterapkan adab-adab yang telah dipelajarinya.[12]

!          Dari Zakariyya Al-‘Anbariy, beliau berkata: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.” [13]

!          Dari Malik bin Anas bahwasanya ibunya berkata kepadanya: “Pergilah ke Rabi’ah lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.” [14]

DOWNLOAD REKAMAN CERAMAH ..DI SINI


[1] http://www.fdawj.com, artikel edisi ke-22 Tahun ke-3 / 29 April 2005 M / 20 Rabi’ul Awwal 1426 H

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Diambil dari penjelasan ust Yusron pada kegiatan coaching materi tarbiyah ta’rifiyah di Makasar.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] http://www.fdawj.com, diambil dari Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi hal.23-25 dengan beberapa perubahan.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid

[12] Ibid.

[13] Ibid .

[14] Ibid.

2 responses to this post.

  1. Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,,

    syukur alhamduliLLAH,, trimakasih sy ucpkn…, krn sy sdh dprkenankn utk mmbaca note yg bagus ini.. (bnyak hal brmanfaat sy dpt dr note “Belajar Adab Sebelum Belajar Ilmu Lainnya” ini..) sekali lagi sy ucapkan bnyak trima kasih kpd saudaraku sekalian..
    Do’akan sy agr slalu dprmudah dlm stiap menerima pmblajarn..

    Jazakumullahu khairan katsiran..
    Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,,

    salam ukhwah

    ~senyum (.❀‿❀.) santun~

    Balas

  2. Posted by lidyasariazis on Mei 28, 2012 at 2:23 pm

    bismillah bermanfaat sekali buatku setelah membaca artikel ini jazakillah khair

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: