Tujuan Tarbiyah II – Muslih

Penjelasan Materi Tarbiyah

Ahdaf adalah bentuk jamak dari hadaf yang artinya tujuan. Setiap amal yang kita kerjakan haruslah memiliki tujuan yang jelas. Dengan tujuan yang jelas maka kontrol dan evaluasi (muhasabah) amal dapat dilakukan. Sebaliknya, ketiadaannya menyebabkan suatu amal menjadi “ngambang” tidak tahu arah yang ingin dicapai. Demikian pula amal tarbiyah, ia harus memiliki tujuan yang jelas sehingga dapat dilakukan kontrol dan pembenahan apabila kemudian terjadi penyimpangan. Selanjutnya evaluasi juga bisa dilakukan yang dengannya akan bisa diukur sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai.

Tarbiyah sebagai salah satu aktivitas perjuangan Islam memiliki dua tujuan yaitu, tujuan yang ingin diwujudkan pada individu (ahdaf tarbiyah fil fard) dan tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan masyarakat (ahdaf tarbiyah fil jama’ah).

tujuan-tarbiyah:  1.1 mumin

1.2 Mushlih (QS. 41:33)

Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”? (Al Fushshilat: 33).

Mushlih artinya orang yang melakukan perbaikan dan yang dimaksud dengan mushlih disini adalah da’i. Ciri-ciri seorang mushlih :

a)      Senantiasa berda’wah dan melakukan perbaikan (QS. 11:88).

Artinya: …Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (Huud: 88)

Seorang da’i/mushlih adalah seorang yang prihatin dengan kondisi ummatnya, karena itulah dia selalu berda’wah secara aktif untuk mengubah kondisi ummat.

b)      Mampu berinteraksi dengan orang lain sebagai obyek da’wah.

c)      Menjadi agen perubahan (dalam hal kebaikan) dimanapun dia berada.

d)     Aktif menjalankan da’wah fardiyah (QS. 71:8-9).

Artinya: Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan . Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam[9]. (Nuh: 8-9).

e)      Membangun bukan menghancurkan.

f)       Murabbi. Sebagai murabbi seorang da’i disamping mengajak mad’unya kepada kebaikan dan ketaatan juga berusaha mendampingi dan membinanya untuk tetap istiqamah. Selanjutnya menghantarkan mad’u tadi secara bertahap menjadi pribadi muslim yang ideal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: