Ta’rif / Definisi As Sunnah

    1. Tinjauan bahasa ( Lughoh )  

    سَنَّ – يَسَُنّ – سنّا،سنّة

    Ditinjau dari etimologinya (bahasa) As Sunnah berarti : siroh atau thoriqoh (jalan) yang baik maupun yang buruk

    Allah تعالى  berfirman:

يريد اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيم

    • · Menurut Ulama Hadits ( Muhadditsun ) : “ Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi صلى الله عليه و سلم  berupa perkataan,perbuatan, persetujuan, sifat jasmani dan akhlaq beliau; baik itu sebelum diutus maupun sesudahnya“.
    • · Menurut Ulama Ushul Fiqh (Ushuliyyun) : “ Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi صلى الله عليه و سلم  selain dari Al Qur’an, baik itu perkataan, perbuatan, dan taqrir yang pantas dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syar’i “
    • · Menurut Ulama Fiqh (Fuqahaa) : “ Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi صلى الله عليه و سلم  dan hukumnya tidak fardhu/wajib “
    • · Menurut Ulama Aqidah : “ As Sunnah adalah segala sesuatu yang sesuai dengan Kitab(Al Quran) dan Hadits serta Ijma’ Salafil Ummah baik itu masalah aqidah maupun ibadah yang merupakan lawan dari bid’ah “(4)
  • Allah hendak menerangkan (hukum syari`at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. An Nisaa:26)

    Dalam tafsir Al Qurthubi disebutkan bahwa salah satu makna:

    ﴿   وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

    “Dia menjelaskan kepadamu jalan-jalan orang sebelummu dari ahlul hak dan batil”(2)

    Tafsiran ini menunjukkan bahwa kata sunan yang merupakan bentuk jama’ dari sunnah digunakan pada yang baik maupun yang buruk, Makna menurut bahasa ini juga ditunjukkan dalam sebuah hadits :

    ] مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ [

    Barangsiapa yang melakukan di dalam Islam sunnah (jalan/contoh) yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala dari orang-orang tersebut sedikit pun. Dan barangsiapa melakukan di dalam Islam jalan/contoh (sunnah) yang tidak baik maka atasnya dosa dan dosa orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun (3)

    2.  Menurut istilah

    Ulama kita berikhtilaf dalam meletakkan definisi As Sunnah sesuai dengan bidang dan disiplin ilmu mereka.

    Dari keempat definisi yang telah disebutkan oleh Ulama tersebut nampak bagi kita bahwa definisi yang disebutkan oleh Ulama hadits adalah definisi yang terlengkap dan cakupannya paling luas dan definisi inilah yang kita maksudkan dalam pembahasan ini. Namun demikian, jika kita perhatikan ketiga definisi yang lain tersebut  maka akan didapati bahwa setiap definisi mempunyai maksud dan sasaran tertentu yang sesuai dengan bidang dan disiplin ilmu para ulama kita rahimahumullah jami’an

    Makna-makna lain dari As-Sunnah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits serta yang disebutkan oleh ulama Salaf kita adalah  :

    a. Peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang berulang yang telah terjadi pada ummat-ummat terdahulu

    Allah تعالى  berfirman:

    ﴿  قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

    Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. Ali Imran:137).

    b. Keputusan dan ketentuan Allah yang tetap dan pasti terjadi

    Firman Allah تعالى  :

    ﴿ سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا  ﴾

    “(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.(QS.Al Israa:77)

    Firman Allah تعالى

    ﴿  سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

    “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. ( Q.S.Al Ahzab:62)

    Juga firman-Nya:

    ﴿  سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

    Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu (Q.S.Al Fath:23)

    c.  Apa-apa yang dipegangi oleh para As-Salaf Ash-Sholih, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه   :

    ]…فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ…[

    “…hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang mendapatkan petunjuk,berpegan teguhlahlah padanya, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi gerahammu…“(HR.Abu Daud,Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    d.  Masalah-masalah pokok dari Ad-Dien ini; hal ini ditunjukkan dengan penggunaan istilah sunnah oleh para ulama kita terhadap buku-buku aqidah mereka. Diantaranya: kitab As Sunnah dan Ushul Assunnah oleh Imam Ahmad, As Sunnah oleh Ibnu Abi ‘Ashim, As Sunnah oleh Imam Al Khallal dan Assunnah oleh Abdullah bin Imam Ahmad rahimahumullah jami’an

    Adapun makna hadits menurut :

    a.  Bahasa adalah : sesuatu yang baru atau sesuatu yang dibicarakan.

    b. Istilah adalah : kebanyakan ulama kita menganggapnya bersinonim dengan As Sunnah sebagaimana definisi yang telah disebutkan menurut definisi Ahli Hadits Namun ada juga diantara ulama yang membedakannya dimana mereka menjadikan pengertian hadits adalah khusus sabda Nabi  dan ada juga yang mendefinisikannya sebagai setiap kejadian yang dinisbatkan kepada Nabi r walaupun beliau mengerjakannya hanya sekali di kehidupannya yang mulia.(5)

     


     

     

    (1) Lihat: As Sunnah Wa Makanatuha Fi At Tasyri’ Al Islami (hal.47-49)

    (2) Lihat Tafsir Al Qurthubi di surat dan ayat tersebut

    (3) Diriwayatkan oleh Imam Muslim di  Shohihnya : Kitab Zakat (2348) dan Ilmu (6741) dari Jarir bin Abdullah t

    (4) Lihat:Al Hujjah fii Bayan Al Mahajjah (2:384,428) dan Jami’ Al Ulum wa Al Hikam (2:120)

    (5) Baca: Tahqiq Ma’na As Sunnah wa Bayan Al Hajah Ilaiha hal. 52


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: