Menjamak Shalat.

Pertanyaan:

Yang terhormat Asy Syaikh Shaalih Al –‘Utsaymiin semoga Allah menjaga dan melindunginya.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Telah di terangakan kepada kami pada hari-hari yang lalu tentang banyaknya shalat jamak  dan memudahkan manusia di dalamnya, maka bagaimana pendapat anda sekalian mengenai kemudahan untuk menjamak ini misalnya saat dingin?

Jawab:

Wa’alaikumus salaam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Tidak di halalkan menmudahkan (menggampang-gampangkan) bagi manusia dalam masalah shalat jamak karena Allah Ta’aalaa berfirman“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”  (An Nisa : 103) dan  “Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” .(Al Isra:78) maka jika itu shalat fardu yang di tentukan waktunya maka wajib melaksanakannya pada waktu yang di tentukan tersebut. Secara global Allah Ta’aalaa berfirman “.Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir.” Hingga akhir dan Nabiy menjelaskan dengan sabdanya,

“Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit.” ( HR Muslim dari Abdullah Ibnu Amr Radhiyallahu ‘anhu)

Maka jika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam membatasi waktu shalat dengan batasan yang diterangkan maka melaksanakan shalat selain waktunya merupakan penentangan terhadap aturan Allah “Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dzallim” ( Al Baqarah: 229) maka barangsiapa yang shalat sebelum waktunya dengan mengetahui dan sengaja maka dia berdosa dan harus mengulang shalatnya. Inilah jamak takdim dengan tanpa alasan syar’I maka shalat yang di dahulukan waktunya tidak syah dan harus mengulangi shalat itu.

Dan barangsiapa mengakhirkan shalat (hingga waktu shalat yang lain, ed) dengan  mengetahui dan sengaja tanpa alasan maka dia berdosa dan tidak akan diterima shalatnya menurut pendapat yang kuat. Dan inilah yang dihasilkan jamak takhir tanpa sebab syar’I. maka shalat yang di akhirkan tidak akan di terima (Allah) menurut pendapat yang kuat.

Maka hendaknya setiap muslim agar bertaqwa dan jangan menggampang-gampangkan urusan besar dan berbahaya ini.

Adapun apa yang telah kuat dari shahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa :” Rasulullah saw. pernah menjamak salat Zuhur dengan salat Asar, salat Magrib dengan salat Isyak bukan pada saat cemas (perang) atau dalam perjalanan. (Shahih Muslim No.1146) (dalam buku ini  disebutkan kata akhirnya adalah hujan, sedangkan makna di atas di ambil dari terjemahan di Hadits Digital,ed) maka ini bukan merupakan dalil untuk menggampang-gampangkan  urusan ini. Karena Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa ditanya “apa yang di maksudkan dengan hal itu ? yaitu (apa yang di maksudkan ) Nabiy shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Ia berkata “ Nabi menginginkan untuk tidak menyulitkan umatnya” maka ini dalil atas yang membolehkan shalat jamak adalah kesulitan dalam melaksanakan setiap shalat pada waktunya. Maka berhak bagi muslim yang memiliki kesulitan dalam melaksanakan shalat pada waktunya, di bolehkan baginya menjamak shalat atau di sunnahkan baginya hal ini. Dan jika tidak ada kesulita padanya maka wajib baginya untuk shalat di setiap waktunya.

Dan berdasarkan hal itu maka tidak boleh menjamak karena dingin keculi di barengi dengan hawa yang menyakiti manusia apabila mereka keluar menuju masjid, atau di barengi salju yang menbuat sakit manusia.

Maka saya nasihatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin terutama para pemimpin (imam) untuk bertaqwa kepada Allah dalam hal ini dan memohon pertolongan Allah untuk menlaksanakan shalat wajib ini sesuai yang dirihoiNya. ( di tulis Muhammad Shaalih Al ‘Utsaimiin pada tanggal 8 bulan 7 1413 H)

( diterjemahkan sendiri dari Fatawa Arkanil Islam, Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, س 314 hal 383-386)

Pertanyaan 314:

Bagaimana hukum menjamak (menggabungkan) shalat Ashr dengan shalat Jumuah ? dan bolehkah bagi orang yang berada di luar negeri (musafir )?

Jawab:

Janganlah kamu menjamak shalat Ashr  dengan shalat Jumuah karena tidak ada contohnya dari sunnah. Dan tidak benar juga mengqiyaskan (memisalkan / menyamakan) hal yang demikian (shalat Jumuah,ed.) dengan shalat Dzuhur karena adanya banyak perbedaan antara shalat Jumuah dan Dzuhur. Pada dasarnya wajib kita mengerjakan setiap shalat pada waktunya kecuali ada dalil yang menbolehkan untuk menjamak satu shalat ke shalat lainnya.

Maka boleh bagi orang yang berada di luar negri (atau luar kota dengan jarak cukup jauh, ed.) menjamak shalat selama 2 atau 3 hari karena dia musafir. Adapun jika berada di negeri yang dekat dengan tidak dianggap sebagai  musafir maka tidak boleh bagi mereka manjamak shalat. Pernyataan ( yang di setujui ) disini dalam menjamak shalat Dzuhur dan ‘Ashr, Maghrib dengan ‘Isya, bukan shalat Jumuah dan Ashr dan juga bukan di setiap keadaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: