Kondisi Kita Saat Ini Terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
oleh : Muhammad Al-Khalaf

Kondisi Kita Saat Ini Terhadap Al-Qur’an:

Segala puji bagi Allah Rabb bagi sekalian alam; aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Rabb bagi sekalian alam. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan pesuruh Allah, yang diutus dengan membawa Al-Qur’an yang nyata, Al-Qur’an pembeda antara petunjuk dan kesesatan, antara benar dan salah dan antara keraguan dan keyakinan. Allah menurunkannya supaya kita membaca-nya dengan penuh penghayatan, merenungkannya dengan penuh hikmat, kita bahagia dengannya karena kita jadikan sebagai pelajaran, kita memperlakukannya sebaik mungkin, dan meyakini (kebenarannya) serta berusaha keras untuk menegakkan perintah-perintah dan larangan-larangannya.

Sangat banyak sekali orang yang membaca Al-Qur’an, namun anda tidak menemukan pengaruhnya pada prilaku, akhlak dan pergaulan mereka. Bahkan sebaliknya anda temui sebagian mereka akhlaknya tidak terpuji, pergaulan dan mu`amalatnya kasar dan kaku, baik terhadap keluarga, tetangga ataupun terhadap orang lain. Padahal, demi Allah….. itu bukan akhlak dan prilaku yang patut dimiliki oleh seorang muslim yang suka membaca dan menghayati Kitab Suci Al-Qur’an? Lalu dimana pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa mereka??!

Sesungguhnya berbagai musibah, malapetaka, cobaan yang bertubi-tubi dan berbagai bencana (gempa bumi dan lainnya) yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin adalah sebenarnya akibat dari jauhnya mereka dari Kitab Tuhannya, tidak menjadikannya sebagai acuan di dalam menyelesaikan permasalahan dan tidak mengamalkan kandungannya. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang agung yang mendidik jiwa manusia, membentuk kepribadian bangsa, dan membangun kebu-dayaan. Al-Qur’an merupakan cahaya yang diturunkan Allah supaya kita beriman dan meyakininya, mengambil pelajaran darinya dan agar kita mengamalkan petunjuk dan bimbingan yang terkandung di dalamnya, supaya kita keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Jadi, kesalahan dan aib terdapat pada pandangan kita yang tidak dapat melihat cahaya itu, disebabkan mata dan hati kita tertutup rapat dari petunjuk Al-Qur’an, cahaya dan keutamaannya yang tersimpan di dalam Kitab Suci ini:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petun-juk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al-Isra’: 9 )

Ibnul Qayyim di dalam karyanya “Al-Fawa’id” berkata: “Setelah manusia (sebagian kaum muslimin. pent.) berpaling dan anti bertahkim (menjadikan sebagai undang-undang) kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam dan berkeyakinan bahwa keduanya tidak cukup dan bahkan mereka lebih mengutamakan pendapat akal, analogi (qiyas), istihsan dan pendapat syaikh, maka hal itu menimbulkan kerusakan di dalam fitrah suci mereka, kegelapan di dalam hati mereka, kekeruhan di dalam pemahaman, dan kedunguan di dalam akal mereka, semua kondisi tersebut telah menyelimuti mereka sampai pada kondisi bahwa anak-anak dididik dalam keadaan dan kondisi seperti itu sedangkan orang-orang yang dewasa menjadi makin tua di atasnya.
Kondisi seperti itu tidak dianggap oleh mereka sebagai kemungkaran dan pada gilirannya datanglah kekuasaan berikutnya yang menjadikan bid`ah sebagai pengganti Sunnah, emosi sebagai pengganti akal, hawa nafsu sebagai pengganti petunjuk, kesesatan sebagai pengganti hidayah, kemunkaran sebagai pengganti yang ma`ruf, kebodohan sebagai pengganti ilmu, riya sebagai pengganti keikhlasan, kebatian sebagai pengganti yang haq, dusta sebagai pengganti kejujuran, berpura-pura sebagai pengganti nasihat dan kezhaliman sebagai pengganti keadilan. Maka yang dominan adalah perkara-perkara batil tersebut dan para pelakunya menjadi orang yang dihormati, padahal sebelumnya yang ditegakkan adalah sebaliknya dan para penegaknya mendapatkan acungan jempol dan pusat perhatian.

Itulah potret kondisi umat manusia yang hidup dan disaksikan oleh Ibnul Qayyim pada paroh pertama dari abad kedelapan hijriyah. Lalu apa kiranya yang akan dikatakan oleh Ibnul Qayyim jika ia melihat pada kondisi kita sekarang?! Sesungguhnya permasalahan sangat rumit dan memprihatinkan sekali, memerlukan langkah-langkah renungan terhadap etika, prilaku dan ibadah kita secara keseluruhan dan menimbangnya dengan neraca kitab Suci Al-Qur’an. Dan setelah merenung dan memperhatikan tersebut, kita harus berintrospeksi diri (muhasabah) lalu memaksanya untuk tunduk dan patuh kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam .

Untuk merealisasikan itu semua, kita harus mema-hami beberapa hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an Suci, yang jika kita telah mengetahui dan menga-malkannya, maka urusan-urusan agama dan dunia kita niscaya menjadi baik.

Kita dapat menyimpulkan hikmah dan tuntutan Al-Qur’an tersebut menjadi lima, yaitu :

  • Membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan.
  • Menghayati ayat-ayatnya.
  • Mengamalkannya.
  • Sabar dalam menjalankan segala perintahnya.
  • Berda`wah untuk menjadikannya sebagai aturan kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: