SAUDARIKU, INI BUKANLAH HIJAB!!

Salah seorang saudari  perempuanku (selanjutnya disebut sebagai Fulanah, masih termasuk mahramku) datang mengun jungiku. Ia datang dengan wajah ceria dan berseri-seri. Ia mengucapkan salam kepadaku, setelah itu ia menodongku dengan sebuah pertanyaan,

FULANAH :  “Apakah engkau tidak mengucapkan selamat kepadaku?”

Mutawalli Al Barazilli (Selanjutnya disingkat MB)            : “Atas dasar apa aku mengucapkan selamat kepadamu?”

FULANAH : “Apakah engkau tidak melihat, kalau sekarang aku telah mengenakan hijab (jilbab)?”

(Aku pun kemudian menoleh ke arahnya, dan aku tidaklah mendapatkan sesuatu yang berubah pada dirinya dan pakaiannya. Ya Allah, tidaklah ada perubahan yang aku lihat, kecuali hanya sebuah selendang (penutup kecil) yang ia taruh di atas kepalanya. Aku kemudian bergumam dalam hati, “Lalu yang ia maksudkan hijab itu apa? Tidaklah aku melihat, kecuali hanya kerudung tembus pandang.”)

Lalu dengan lemah lembut aku berkata kepadanya,

MB : “Akan tetapi wahai saudariku, ini bukanlah hijab.” (Setelah mendengar ucapanku yang seperti itu, ia lalu memandang kepadaku dengan pandangan melotot dan muka yang merah padam. Aku sebelumnya juga sudah merasa kalau akan seperti ini jadinya. Karena sudah kepalang tanggung, aku pun menunjukkannya pengertian tentang hijab yang sebenarnya).

MB : “Maaf, jangan marah dulu! Coba dengarkan pertanyaanku, untuk apa sih hijab itu? Perempuan adalah makhluk yang cantik/indah. Allah telah menciptakannya dalam sebaik-baik ciptaan. Pada laki-laki terdapat semacam bentuk kecenderungan (fitrah) untuk suka kepadanya. Dia itu adalah rayuan (syahwat) yang sangat kuat buat laki-laki, sebagaimana firman Allah Ta’aalaa , artinya: “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaaan kepada wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak, yang terdiri dari emas, perak, kuda tunggangan, kesenangan dan sawah ladang. Yang demikian itulah kesenangan dunia dan di sisi Allahlah sebaik-baik tempat kembalii”. (QS Ali Imran: 14).

Dan demikian juga Allah menjadikan fitrah bagi perempuan untuk suka kepada laki-laki, akan tetapi yang membedakannya adalah, laki-laki itu lebih agresif terhadap wanita! Allah Ta’aalaa lalu menjaga kecenderungan fitrah makhluk-Nya ini dengan jalan menyalurkannya dalam salah satu wadah syar`i, yaitu nikah. Perlu juga diketahui bahwa segala sesuatu yang terdapat pada diri wanita memiliki daya tarik sendiri bagi laki-laki, karena itulah Allah I menutup semua pintu yang akan menjerumuskan seorang laki-laki dalam lubang fitnah wanita.

Allah Ta’aalaa lalu menyuruh kaum Adam untuk menundukan pandangan mereka terhadapnya dan melarang untuk berdua-duaan dengannya. Allah juga memerintahkan kepada para wanita sebagaimana yang diperintahkan kepada laki-laki, akan tetapi Allah mengkhususkan untuknya agar mengenakan hijab, yaitu untuk menjaga badan/fisik mereka dari pandangan laki-laki dan menyucikan dirinya dari fitnah. Begitu halnya dengan laki-laki, menahan pandangan akan menolong mereka dalam beribadah kepada Allah.     Hijab hukumnya adalah wajib, yang mana ia itu berfungsi untuk menutupi setiap tempat yang di situ tampak keindahan/kemolekan tubuh wanita. Apakah penjelasanku ini sudah jelas?”

FULANAH : “Ya, jelas!”

MB : “Jika seorang perempuan lewat dengan penampilan yang tidak syar`i, kemudian ia menampakan fitnahnya atau sebagian darinya, lalu semua mata tertuju kepadanya, maka hilanglah pada saat itu hikmah hijab. Bahkan lebih dari itu, Islam telah mengharamkan kepada perempuan menampakan perhiasan mereka yang tersembunyi. Seperti membunyikan gelang kaki sebagaimana yang sering dilakukan oleh perempuan-perempuan musyrik di zaman jahiliyah, memakai wangi-wangian dan yang lainnya. Kalau kita melihat kepada hijab yang kamu kenakan, apakah kriteria-kriteria yang

kita sebutkan sudah terpenuhi?”

FULANAH : “Akan tetapi, aku kan menutup seluruh badanku dan tidak ada yang terlihat pada diriku, kecuali wajah dan telapak tanganku!”

MB : “Pada hijab itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. Alangkah baiknya kalau engkau mengetahuinya.

Syarat-syarat hijab:

1. Menutupi selurah badan kecuali wajah dan telapak tangan, pendapat lain mengatakan wajibnya menutup muka.

2. Tidak menjadikannya sebagai perhiasan.

3. Ukurannya longgar dan tidak sempit.

4. Tidak tembus pandang.

5. Tidak menggunakan harum-haruman/ parfum.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

7. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.

8. Tidak menggunakan pakaian yang mengundang syahwat.

Setiap syarat dari semua syarat-syarat ini ada dalilnya dalam Al Qur`an dan Sunnah, jikalau salah satu dari syarat ini ditanggalkan maka tanggallah semua syarat yang lain. Maka, jika sekarang kita melihat kepada hijab yang engkau kenakan, berapa syaratkah yang sudah engkau penuhi?  Satu syarat saja kan? Yaitu menutupi badan kecuali wajah dan telapak tangan, sedangkan syarat yang lain belumlah engkau penuhi. Sekarang engkau mengenakan celana, yang mana lekuk-lekuk tubuhmu kelihatan secara gamblang, sedangkan di sisi lain ia juga menyerupai pakaian laki-laki dan wanita-wanita kafir. Engkau memakai baju sempit yang memperlihatkan apa-apa yang terdapat di sekitar dadamu, di samping parfum yang sekarang engkau kenakan, yang baunya memenuhi seantero ruangan ini. Maka demi Allah, apakah yang seperti ini yang dikatakan hijab? Apakah penampilanmu sekarang ini

sudah tidak mendatangkan fitnah buat kami para laki-laki? Tidak! Demi Allah! Engkau malah menambah fitnah saja! Coba dengarkan hadits ini, dari Usamah bin Zaid t ia berkata, “Aku diberi pakaian qibtiah yang besar oleh Rasulullah r, yang mana beliau dihadiahi oleh Dihyah Al-Kalbi, lalu aku memberikannya kepada istriku. Rasulullah r bersabda, “Kenapa engkau tidak mengenakannya?” Aku berkata, “Aku telah memberikannya kepada istriku.” Rasulullah berkata, “Perintahkanlah kepadanya untuk menambahi (memperpanjang kain) bagian bawahnya, karena aku khawatir kakinya akan kelihatan.” (HR Ahmad dan yang lainnya. Dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir kalau-kalau kaki perempuan kelihatan, maka bagaimana dengan perempuan kita sekarang ini?”

(Ia kemudian diam dan menundukkan wajahnya ke tanah. Kemudian aku meneruskan perkataanku),

BERHIJAB ITU HUKUMNYA WAJIB

Allah I telah memerintahkan kepadamu untuk mengenakan hijab, sebagaimana firman-Nya, artinya:

“Wahai Nabi, sampaikanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS Al-Ahzab: 59).

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya”. (QS An Nur: 31).

Maka tidaklah ada jalan untuk menolak, berdalih dan menghindar, akan tetapi wajib bagi kamu untuk mengaplikasikan perintah Allah itu dalam bentuk perbuatan.

Allah Ta’aalaa berfirman, artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan begitu pula wanita yang mukminah

apabila Allah telah menetapkan suatu keputusan, akan ada bagi mereka (pilihan yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah sesat. Sesat yang nyata”. (QS Al-Ahzab: 36).

Dalam sejarah Islam, tidaklah pernah kita temui seorang dari ulama yang mengatakan bahwa hijab itu hukumnya bukanlah wajib bagi wanita, dan bagi mereka ada pilihan lain. Akan tetapi mereka semuanya telah sepakat bahwa hijab itu wajib bagi perempuan, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya menampakan wajah dan telapak tangan.

Maka janganlah perkataan orang yang dianggap sebagai tokoh di zaman kita ini melenakan kamu, atau sinyalemen yang mengatakan, “Sesungguhnya ia telah membaca kitab Allah baris perbaris dan sama sekali ia tidak menemukan di dalamnya perintah untuk berhijab.”

FULANAH : “Akan tetapi, kalau seseorang langsung begitu saja memakai hijab, apakah itu namanya tidak tergesa-gesa. Kan harus ada keserasian dulu dengan akal, biar terasa kepuasan dalam memakainya?”

MB : “Ini adalah keragu-raguan dari setan yang menggelayuti para wanita yang tidak berhijab sekarang ini. Apakah kamu akan mencocokkan dulu ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah r dengan akal dan hawa nafsumu? Apakah akal manusia (makhluk) akan dijadikan sebagai ganjalan dari segala perintah Allah dan larangan-Nya? Kalau kita mengiyaskan kepada seorang pembantu yang mendapat perintah dari juragannya untuk melakukan suatu pekerjaan, kemudian dia berkata kepada tuannya, “Aku tidak akan mengerjakan pekerjaan ini, kecuali kalau sudah sesuai dengan akalku!” Apakah pembantu yang seperti ini dikatakan pembantu yang taat? Malah sebaliknya, dia adalah pembantu yang tidak baik dan layak dipecat dari jabatannya. Kalau kita membolehkan akal untuk berbuat seperti itu, maka bisa-bisa kita akan menolak syariah secara keseluruhan, kecuali apa-apa yang sesuai dengan akal dan hawa nafsu kita saja. Kita tidak mau mengerjakan shalat dan puasa kecuali kalau sudah merasakan kecocokan dengan akal kita dan puas dengannya.”

FULANAH : “Akan tetapi, hijab itu berbeda dengan shalat dan puasa.”

MB : “Tidak ada pertentangan di antaranya, yang memerintahkan puasa dan shalat itu adalah yang mewajibkan hijab juga, yaitu Allah I. Sedangkan perintah itu wajib untuk dikerjakan langsung ketika ia sampai kepada kita.

Coba kita sama-sama menengok kepada apa yang dilakukan oleh para muslimah generasi awal. Dari Aisyah—radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Semoga Allah merahmati wanita-wanita muhajirat generasi awal, ketika Allah I menurunkan ayat, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya”. Lalu mereka dengan senang hati langsung mengerjakan perintah itu dengan menutup dada mereka dengan kain yang ada pada mereka. (HR. Bukhari/4758).

Mereka tidak menunda sampai bisa membeli atau memperolehnya, akan tetapi mereka langsung mengerjakannya.             Ketahuilah bahwasanya kesalahan terbesar yang awal mula dilakukan iblis—semoga Allah melaknatnya—adalah karena ia menggunakan akal yang pendek di depan dalil yang sudah jelas. Allah I menggandengkan antara larangan tabarruj (berhias ala jahiliyah) dengan perintah mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam satu ayat, sebagaimana yang tersebut dalam firmannya, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”. (QS Al-Ahzab: 33).

Dalam ayat itu larangan tabarruj lebih didahulukan dari kewajiban menegakkan shalat. Ketahuilah bahwa kondisi kamu sekarang ini tidak jauh beda dengan orang-orang Bani Israil yang Allah telah mencela mereka di dalam Qur’an-Nya, “Apakah kamu akan beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka di kembalikan kepada siksa yang sangat pedih.” (QS Al-Baqarah: 85).

Sumber: Islamiy.Net menukil dari Majalah Tauhid, Mesir dari tulisan Ust. Mutawalli Al-Barazilli, dengan perubahan dari Redaksi Al Fikrah. ( Buletin Al Fikrah  No.10 tahun VI / 14 Dzulqo’dah 1426 H )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: